Latest Post
01.56
Cara mendaftar berkerja dari rumah dengan Facebook
Written By Unknown on Selasa, 18 November 2014 | 01.56
Untuk mendaftar pekerjaan dari rumah dengan Facebook, berikut tiga langkahnya:
Langkah 1: Kunjungi laman utama Facebook Fortune dan isi formulir singkat untuk mendapat akses online instan terhadap program ini.
Langkah 2: Ikuti arahan pada paket Anda dan buat akun gratis.. Anda akan segera memperoleh akses terhadap program dan memilih metode pembayaran yang diinginkan.
Langkah 3: Selesaikan tugas-tugas online dan dapatkan bayaran melalui cek, Paypal atau deposit langsung tiap minggu!
Tautan Terkait:
Langkah 1: Kunjungi laman utama Facebook Fortune dan isi formulir singkat untuk mendapat akses online instan terhadap program ini.
Langkah 2: Ikuti arahan pada paket Anda dan buat akun gratis.. Anda akan segera memperoleh akses terhadap program dan memilih metode pembayaran yang diinginkan.
Langkah 3: Selesaikan tugas-tugas online dan dapatkan bayaran melalui cek, Paypal atau deposit langsung tiap minggu!
Tautan Terkait:
Label:
Bisnis online
07.23
SULTAN HASANUDDIN
Lahir : Makassar, 12 Januari 1631
Wafat : Makassar, 12 Juni 1670
Sejarah Sultan Hasanuddin
Written By Unknown on Senin, 17 November 2014 | 07.23
Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun).
Terlahir dengan nama asli I Mallambosi, dia diangkat menjadi Sultan Ke-6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Dia juga diberi nama Arab Muhammad Bakir dan bergelar Sultan Hasanuddin. Sementara itu, Belanda memberinya gelar de Haav van de Osten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihan dan keberaniannya.
Peperangan antara VOC dan Sultan Hasanuddin dimulai pada tahun 1660. Saat itu, Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala, akhirnya tewas, tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian.
Peperangan antara VOC dan Sultan Hasanuddin dimulai pada tahun 1660. Saat itu, Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala, akhirnya tewas, tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian.
SULTAN HASANUDDIN
Lahir : Makassar, 12 Januari 1631
Wafat : Makassar, 12 Juni 1670
Agama : Islam
Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian
menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu De Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah. Lalu mengirimkan armada perang yang besar di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Aru Palaka, penguasa Bone, juga ikut memimpin pasukannya menyerang Gowa. Sultan Hasanuddin yang semakin terdesak akhirnya sepakat untuk membuat perjanjian yang disebut Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.
Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun, karena saat itu Belanda sudah mempunyai kedudukan yang kuat, pada tanggal 26 Juni 1668, Benteng Sombo Opu sebagai pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin berhasil dikuasai Belanda.
Hingga wafatnya pada tanggal 12 Juni 1670, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda.
Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun, karena saat itu Belanda sudah mempunyai kedudukan yang kuat, pada tanggal 26 Juni 1668, Benteng Sombo Opu sebagai pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin berhasil dikuasai Belanda.
Hingga wafatnya pada tanggal 12 Juni 1670, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda.
Sumber : Berbagai Sumber.
Label:
sejarah
06.24
TEUNGKU CIK DI TIRO
Lahir : Tiro, Pidie, 1836
Wafat : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891
Dikenal karena : Pahlawan Nasional Indonesia
Agama : Islam
Sejarah Teungku Cik Di Tiro
Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.
Sejak kecil, Teungku Cik Di Tiro yang bernama asli Muhammad Saman telah terbiasa tinggal di lingkungan pesantren. Di situ ia banyak menimba ilmu dari beberapa ulama terkenal di Aceh. Setelah merasa cukup berguru, Saman menunaikan ibadah haji ke Mekah sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Sekembalinya dari Mekah, Saman menjadi guru agama di Tiro hingga kemudian dikenal sebagai Teungku Cik Di Tiro.
Sejak kecil, Teungku Cik Di Tiro yang bernama asli Muhammad Saman telah terbiasa tinggal di lingkungan pesantren. Di situ ia banyak menimba ilmu dari beberapa ulama terkenal di Aceh. Setelah merasa cukup berguru, Saman menunaikan ibadah haji ke Mekah sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Sekembalinya dari Mekah, Saman menjadi guru agama di Tiro hingga kemudian dikenal sebagai Teungku Cik Di Tiro.
TEUNGKU CIK DI TIRO
Lahir : Tiro, Pidie, 1836
Wafat : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891
Dikenal karena : Pahlawan Nasional Indonesia
Agama : Islam
Tahun 1873, Saman melakukan perlawanan terhadap VOC yang bermaksud memasukkan Aceh ke dalam wilayah jajahannya. Bahkan pada perang di tahun itu, Panglima Belanda, Mayor Jenderal JHR Kohler tewas dalam suatu pertempuran. Hal ini membuat Belanda marah dan mengirimkan pasukan dalam jumlah yang jauh lebuih besar dan kuat untuk memerangi Aceh.
Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukan Cik Di Tiro. Tak lama kemudian benteng-benteng Belanda lainnya seperti benteng Lambaro, dan Aneuk Galong juga berhasil direbut. Ketika itu, Belanda sudah sangat terdesak sehingga satu-satunya tempat bertahan Belanda hanya tinggal benteng di Banda Aceh. Daerah yang dikuasai Belanda itu pun hanya tinggal empat kilometer persegi. Hal ini membuat Belanda panik dan kewalahan. Cik Di Tiro memang sulit ditundukkan, dan Belanda selalu mengalami kekalahan.
Menyadari peran vital Cik Dik Tiro sebagai sumber semangat perjuangan rakyat Aceh, Belanda akhirnya menggunakan akal licik untuk membunuhnya. Cik Di Tiro akhirnya berhasil diracun melalui makanannya yang dilakukan oleh kakitangan Belanda. Cik Di Tiro kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891.
Sumber: Berbagai Sumber
Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukan Cik Di Tiro. Tak lama kemudian benteng-benteng Belanda lainnya seperti benteng Lambaro, dan Aneuk Galong juga berhasil direbut. Ketika itu, Belanda sudah sangat terdesak sehingga satu-satunya tempat bertahan Belanda hanya tinggal benteng di Banda Aceh. Daerah yang dikuasai Belanda itu pun hanya tinggal empat kilometer persegi. Hal ini membuat Belanda panik dan kewalahan. Cik Di Tiro memang sulit ditundukkan, dan Belanda selalu mengalami kekalahan.
Menyadari peran vital Cik Dik Tiro sebagai sumber semangat perjuangan rakyat Aceh, Belanda akhirnya menggunakan akal licik untuk membunuhnya. Cik Di Tiro akhirnya berhasil diracun melalui makanannya yang dilakukan oleh kakitangan Belanda. Cik Di Tiro kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891.
Sumber: Berbagai Sumber
Label:
sejarah


